Pengerjaan Proyek Jalan Nasional Ruas Cibadak-Palabuhanratu Terkesan Asal-asalan

oleh -
Badan jalan yang telah diperbaiki tampak kurang padat karena tidak ada penggilasan oleh setum berukuran besar.
Proyek perbaikan jalan nasional bernilai miliaran rupiah menggunakan mesin setum tangan dan tidak memakai batu balasan.

Wartawan Tim Bharindo

SUKABUMI, bharindojabar.com. –  Pengerjaan proyek jalan nasional pada ruas Cibadak-Palabuhanratu terkesan asal-asalan. Berdasarkan investigasi di lokasi kegiatan di Kampung Cimenteng, Desa Sukamulya, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, pelaksana perbaikan jalan tidak menggunakan mesin penggilas berukuran besar, tapi setum tangan berukuran ratusan kilogram.

banner 720x90

Menurut pengawas lapangan yang mengaku bernama Jajang, proyek tersebut berasal dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Ruas jalan tersebut mengalami kerusakan akibat dilanda longsor dan pergerakan tanah.   

Lazimnya pada proyek bernilai miliaran rupiah, pemborong mengerahkan setum yang ukurannya 8 ton agar batu balasan dapat lebih padat dan jalan dapat menahan beban seberat 30 ton. Apalagi ini termasuk ruas jalan nasional yang kualitas dan kekuatannya harus prima.  

“Ini yang digunakan hanya setum kecil yang didorong dan alat pengeras jalan juga pakai tangan. Saya menangkap kesan, pengerjaan jalan ini asal-asalan,” kata seorang warga ditemui di sekitar lokasi proyek, Jumat (8/10/2021).

Pengawas lapangan, Jajang (kanan).

Rupanya tidak adanya setum besar karena pada proyek jalan nasional itu tidak memakai batu balasan sebagai dasar lapisan jalan di atas tanah. Lapisan jalan yang dipakai hanya berupa serpihan batu atau beskos dan batu seplit ukuran 2 x 3. Ketinggian beskos dengan sama seplit hanya 25 cm.

“Jadi lapisan seplit itu tidak terkunci pada lapisan batu di bawahnya karena langsung bersentuhan dengan lapisan tanah,” ujar warga tersebut.

banner 720x90

Betapa menyedihkan, kata dia, pengerasannya memakai setum tangan yang beratnya 750 kilogram.

Dari pengamatan jarak dekat terlihat lapisan batu yang dipadatkan tidak terlalu padat. Dia mengkhawatirkan, hasil dari perbaikan ruas jalan tersebut nantinya tidak dapat menahan beban kendaraan besar.  

“Kalau tidak memakai balasan  terkunci hal itu bisa mengakibatkan penggelembungan pada lapisan aspal atau merosot ke pinggir,” jelasnya.

Terhadap temuan warga itu, Jajang menjawab, penggunaan material dan prosedur perbaikan jalan sudah sesuai dengan persetujuan dari Kementerian PUPR. Bahkan, kata dia, seharusnya tidak memakai beskos, hanya permukaan batu seplit 2 x 3.

“Penambahan beskos itu inisiatif kami supaya hasilnya lebih maksimal,” ujar Jajang.

Perbaikan jalan di titik Desa Sukamulya itu merupakan bagian dari proyek preservasi jalan Cibadak-Bagbagan-Cibareno dengan anggaran sebesar Rp9.542.315.200 yang dikerjakan oleh PT Nidya Karya Putri. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.