Wartawan Tim Bharindo
SUKABUMI, Bharindojabar.com – Kasus Pembacokan salah satu anggota Ormas Pemuda Pancasila (PP) beberapa waktu lalu yang bernama Sopan Sopian alias SS menyisakan sorotan dari berbagai pihak.
Ditangkapnya beberapa orang yang diduga menjadi pelaku pembacokanpun menuai kontroversi dan pertanyaan berbagai pihak, sampai berujung mengadunya salah satu orang tua terduga pelaku ke Div Propam Mabes Polri dan Kompolnas.

Ironisnya, dalam rekaman investigasi Wartawan Tim Bharindo, korban pembacokan (SS) mengaku tidak pernah sekalipun menyebut atau mengiyakan kalau yang di tangkap sekarang adalah tersangka yang membacok dirinya.
SS menyatakan tkp nya benar di jalan pelabuhan 2, namun SS mengaku tidak pernah menyebut bahwa itu memang pelakunya ataupun mengiyakan kalau itu pelakunya karna pada saat kejadia keadaanya gelap dan cepat.

” jangankan menghafal ciri-ciri atau muka pak, saya masih selamat saja alhamdulillah ” sebut SS, Minggu (03/04/2022).
Yang saya ingat hanya memakai baju hitam dan motor hitam selebihnya dia tidak tahu lagi, dan bahkan rekan korban yang pada saat kejadian di bonceng oleh korban juga tidak mengetahui ciri-ciri dari para tersangka, demikian keterangan SS.
“Saya pengobatan habis 55 juta pak dan itu orang tua saya hutang kesana kemari, kalo saya sebenernya sangat membuka jalan mediasi karna saya juga tidak mau semua berkepanjangan saya mau pihak keluarga yang sekarang jadi tersangka silahkan temui saya mengobrol dengan saya dan minta maaf,” tandasnya.

SS membuka diri untuk kedatangan pelaku yang sebenarnya, soal ganti rugi SS tidak meminta semua biaya pengobatan di bayarkan, asal mereka ada itikad baik ngobrol sanggupnya berapa akan diterimanya.
“Saya gak tau yang sekarang ini (SH,MR,MFR-Red) benar tersangka atau bukan, tapi yang berhak menentukan itu benar tersangkanya atau bukan kan pihak berwajib pak jadi saya menghormati saja pihak berwajib” ujar korban pembacokan tersebut.
SS sempat menuturkan bahwa saat kejadian ia tidak merasa punya masalah dengan siapapun, bahkan menurut pemikirannya hal itu hanya kejadian tak direncanakan. Sebab saat dia memacu kendaraannya untuk pergi dari TKP, Si Pembacok tidak mengejarnya.
“Kalau memang mereka sengaja mau menghabisi saya, tentu mereka akan mengejar saya,tapi ternyata tidak,” ujarnya.
Dari keterangan Opay, bahkan pihak kepolisian sempat melakukan pressure pada temannya yang membonceng dibelakangnya saat kejadian.
“Apoy sempat di press untuk mengakui kalau Apoy-lah pelaku sesungguhnya, sempat juga diancam akan diperkarakan bab narkoba, tapi Apoy mengelak dan akhirnya bebas,” kata Opay.
Dari sini muncul pertanyaan baru, atas pantauan kejadian dari awal penangkapan terduga pelaku yakni SH,MR dan MFR yang saat ini mendekam di balik jeruji tahanan Polres, banyak kejanggalan yang terlihat.
Disatu sisi Pihak Korban merasa tidak mengenal pelaku, disisi lain terduga pelaku yang berjumlah tiga orang mempunyai pengakuan tidak pernah mengenal korban dan tidak pernah merasa melakukan.
Muncul pertanyaan baru, apakah Polres Sukabumi Kota melakukan penangkapan yang tidak prosedural? atau bahkan salah tangkap?
(Renaldi Irawan)












