Satgas COVID-19: 3M Bisa Kurangi Risiko Tertular COVID-19 hingga 85 Persen

oleh -
Dialog Produktif yang mengambil tema ‘Prokes Dijalankan, COVID-19 Kita Kalahkan yang diselenggarakan oleh Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN).

Wartawan Dudi Surahman

JAKARTA. Satuan Tugas Penanganan COVID-19 (Satgas COVID-19) kembali mendiskusikan efektivitas 3M yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dalam mengurangi risiko tertular Virus Corona.

banner 720x90

Diskusi itu digelar dalam sesi Dialog Produktif yang mengambil tema ‘Prokes Dijalankan, COVID-19 Kita Kalahkan yang diselenggarakan oleh Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) secara virtual, Jumat (29/1/2021).

Berdasarkan data hasil penelitian, risiko penularan COVID-19 tanpa berperilaku 3M bisa mencapai 100%. Dengan mencuci tangan risiko tertular turun 35%, ditambah memakai masker kain risikonya turun menjadi 45% dan apabila memakai masker bedah menurunkan risiko tertular hingga 70%.

Lalau kalau ditambah dengan menjaga jarak 1 meter, itu menurunkan risiko hingga 85%. Efektivitas inilah yang mendasari protokol kesehatan 3M merupakan upaya utama untuk dijalankan seluruh masyarakat. Setiap saat, pemerintah selalu menghimbau masyarakat agar mentaati 3M. Masyarakatlah yang memiliki peranan penting dalam upaya menekan angka penularan COVID-19.

Hal itu dikatakan dr. Muhammad Fajri Adda’i, dokter relawan COVID-19 dan edukator kesehatan dalam dialog tersebut.

“Satgas harus terus bersama-sama dengan pemerintah melakukan kewajiban 3T (testing, tracing, treatment) dan masyarakat menjalankan 3M. Kita sama-sama ambil bagian sebagai subjek penanganan pandemi ini,” kata Fajri.

banner 720x90

Dengan menggunakan masker, ujar dia, penularan bisa ditekan jauh. Lalu, perilaku menjaga jarak terutama di ruangan tertutup mengurangi risiko tertular lebih besar lagi.

“Apabila kita terpaksa berada di ruangan tertutup, sebaiknya kita membuka semua ventilasi. Jangan terlalu berkerumun dan menghindari ruangan dengan ventilasi yang buruk. Pilihan terbaik adalah pertemuan virtual,” kata dia.

Lebih lanjut, dr. Fajri juga menjelaskan, pentingnya mencuci tangan adalah untuk menghindari kuman atau virus yang tidak sengaja tertempel karena droplet atau percikan di ruangan ber-AC yang  bisa bertahan sampai beberapa minggu.

“Ini bisa menginfeksi apabila kita tidak sengaja mengucek mata. Untuk mengusir kuman atau virus dari tangan adalah mencuci tangan dengan sabun di bawah air yang mengalir,” jelasnya.

Sementara itu Elgeen Frydianto, salah satu penyintas COVID-19 menceritakan, sebenarnya dia orang yang patuh menerapkan protokol kesehatan. Setiap berkegiatan selalu mencuci tangan, memakai masker, dan selalu mandi saat pulang ke rumah.

“Tapi  kita tidak pernah tahu di mana tertular COVID-19. Betul yang dikatakan Dokter Fajri, masyarakat tidak boleh mengabaikan protokol kesehatan,” kata Elgeen.

Saffri Sitepu juga mengisahkan pengalamannya selaku penyintas COVID-19. “Saya rasa saya tertular waktu itu karena kurang menjaga jarak atau kerap bertemu orang banyak. Pengalaman saya ketika divonis positif COVID-19, yang paling berat adalah sepuluh hari pertama. Ketika itu saya sesak berat dan batuk berdarah. Setelah pulang dinyatakan negatif pun saya merasa fisik masih berat, gampang lemas, hampir tiga bulan saya rasakan pengalaman tersebut,” terangnya.

Dulu sebelum terkena COVID-19, Saffri hobi bersepeda dengan komunitas. Tapi setelah sembuh COVID-19, sampai saat ini dia sudah tidak lagi bersepeda dengan teman-teman.

“Saya hindari hal itu. Saya bersepeda sendiri, saya jauhi kerumunan. Karena masih ada rasa takut terinfeksi kembali. Hingga kini saya melaksanakan protokol kesehatan yang benar dan tepat,” ujarnya.

Menanggapi kisah dan saran kedua penyintas, dr. Fajri menghimbau agar masyarakat bisa tetap menjaga jarak sambil beraktivitas.

“Apabila harus terpaksa bertemu, cari tempat yang ventilasinya baik, kalau perlu bertemu di luar ruangan, dan usahakan jangan sembari makan, terus jaga jarak. Jika naik transportasi umum pilih yang tidak terlalu padat. Jangan banyak bicara sehingga tidak harus menurunkan masker,” sarannya.

Penularan COVID-19 seringkali terjadi karena keteledoran. Laporan WHO mengatakan penularan terjadi cukup tinggi saat makan bersama kolega, keluarga, karena dipikir aman. 

“Untuk melengkapi usaha tersebut, jangan lupa untuk bantu pemerintah melakukan 3T. Terakhir kita harus dukung vaksinasi agar program ini bisa menurunkan penularan dan kita semua bisa sehat selalu,” tuturnya. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.